Earth Day 2024 – Indonesia

Bertepatan dengan Hari Bumi 2024, Ipsos Global merilis hasil survei terbaru terkait sikap dan opini publik terhadap Perubahan Iklim.

Bertepatan dengan Hari Bumi 2024, Ipsos Global merilis hasil survei terbaru terkait sikap dan opini publik terhadap Perubahan Iklim, fenomena global yang kian mendesak perhatian dan aksi kolektif negara. Studi yang melibatkan 24,290 responden dari 33 negara, termasuk 500 responden di Indonesia mengungkapkan perpaduan optimisme dan urgensi yang menyelimuti publik.

Hasil dari studi ini dapat menjadi panduan bagi para pemimpin dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan dan strategi yang tepat untuk memerangi Perubahan Iklim karena memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana publik menyikapi perubahan iklim.

Mayoritas responden survei global menyatakan keyakinan mereka bahwa pemangku bisnis, pemerintah, dan individu memiliki peran masing-masing dalam memerangi perubahan iklim. Di 28 dari 33 negara yang disurvei, sebagian besar setuju bahwa kelambanan pemerintah dalam menangani perubahan iklim akan merugikan rakyatnya. Indonesia menjadi negara dengan persentase tertinggi yang menyetujui pernyataan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 80% masyarakat Indonesia memiliki kesadaran akan urgensitas aksi nyata dalam menghadapi krisis iklim.

Optimisme Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Lebih dari setengah (54%) masyarakat Indonesia menyatakan keyakinan mereka terhadap kebijakan dan rencana pemerintah untuk mengatasi perubahan iklim dan mitigasi dampaknya. Di samping optimisme yang relatif tinggi, masih terdapat 12% masyarakat Indonesia yang merasa ragu akan upaya pemerintah. Hal ini mencerminkan kompleksitas dan tantangan yang dihadapi dalam mengatasi krisis iklim di tingkat global dan nasional.

Adapun sebanyak 82% masyarakat Indonesia meyakini bahwa perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari, seperti menggunakan transportasi publik, beralih ke energi terbarukan, dan menggunakan produk yang berkelanjutan mampu memberikan dampak besar dalam mengatasi perubahan iklim. Dan kepedulian inipun didukung juga oleh masyarakat dari negara tetangga yaitu Malaysia yang sebanyak 73% setuju terhadap pernyataan tersebut.

Hasil studi ini juga menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap dampak negatif dari perubahan iklim yang tergolong tinggi, hanya 22% responden menyatakan jika dampak negatif perubahan iklim di masa depan masih terlalu jauh untuk dikhawatirkan. Dan sebanyak 58% masyarakat Indonesia tidak setuju dengan pernyataan bahwa mengubah perilaku diri sendiri untuk mengatasi perubahan iklim, tidak ada manfaatnya. Dari data ini terbukti bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memahami realitas dan urgensi perubahan iklim.

Apakah krisis iklim menjadi tanggung jawab negara maju?

Untuk mengatasi permasalahan iklim, 82% masyarakat Indonesia setuju jika perlu adanya aksi kontribusi nyata dari seluruh negara.

Namun, pada tingkat global, sebagian besar masyarakat memandang bahwa negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, dll, yang faktanya menghasilkan emisi karbon tinggi, memiliki tanggung jawab lebih besar untuk mengambil langkah nyata, dan memimpin upaya mitigasi serta adaptasi kebijakan terkait perubahan iklim, karena negara maju memiliki sumber daya dan kapabilitas yang lebih unggul dalam memerangi krisis ini. 8 dari 10 (80%) orang Indonesia juga setuju akan pernyataan ini.

Planet vs. Plastik

Menyambut Hari Bumi 2024 dengan tema "Planet vs Plastik", Ipsos Global, bekerja sama dengan Plastic Free Foundation, dan WWF, merilis hasil survei terbaru yang mengungkap pandangan masyarakat terhadap potensi perjanjian global untuk mengatasi polusi plastik.

Survei ini bertujuan untuk memahami sentimen publik terhadap upaya global dalam mengurangi produksi plastik hingga 60% pada tahun 2040 dan membangun masa depan yang bebas plastik.

Meskipun Indonesia termasuk negara penyumbang sampah plastik terbanyak di dunia, akan tetapi masyarakat Indonesia sendiri menunjukkan kepedulian tinggi terhadap upaya global memerangi polusi plastik. Data menunjukkan bahwa 96% masyarakat Indonesia sepakat bahwa pengurangan produksi plastik global sangatlah penting, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata 87% di 32 negara lain.

Adapun langkah kecil pertama yang dapat dilakukan untuk mengurangi penggunaan plastik yaitu dengan melarang barang-barang plastik yang paling mungkin menjadi polusi, dan sebanyak 42% masyarakat Indonesia sangat menyetujui pernyataan tersebut. Hal ini pula didukung oleh 69% masyarakat global yang setuju terhadap pernyataan jika perubahan kecil setiap hari dapat membuat dampak besar pada perubahan iklim dunia.

Bagaimana perusahaan bisa bertanggung jawab dalam menyelamatkan bumi?

Di tengah krisis iklim yang semakin memprihatinkan, menjaga kelestarian lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi seluruh umat manusia. Kesadaran ini tak hanya bertumpu pada individu, tapi juga perusahaan.

Meskipun harga, produk, dan layanan akan selalu menjadi kunci bagi pembeli, survei menunjukkan bahwa tiga dari sepuluh orang menginginkan fokus utama perusahaan adalah pada ESG (Environmental, Social, and Governance). Artinya, ke depannya, cara perusahaan menjalankan bisnisnya secara berkelanjutan akan menjadi faktor yang jauh lebih besar dalam keputusan pembelian konsumen.

Baca selengkapnya mengenai penerapan ESG di sini.

Tentang studi ini

Hasil survei dari 33 negara yang dilakukan oleh Ipsos melalui platform online Global Advisor. Ipsos mewawancarai 500 orang dewasa berusia 21-74 tahun di Indonesia, dari 26 Januari sampai 9 Februari 2024 & 25 Agustus sampai 6 Oktober 2023.

Society