Ipsos Generations Report 2024 - Indonesia

Ipsos Generations Report 2024 menemukan bahwa sebagian besar orang tidak mengetahui generasi mereka. Laporan ini juga mengungkap mitos generasi, peluang yang dilewatkan brand, dan mengapa perubahan demografis bukan hanya masalah politik.

Ipsos meluncurkan laporan terbarunya, terkait laporan generasi, diikuti juga dengan penelitian lebih dalam pada mitos generasi Milenial, Gen Z, serta Baby Boomer.

Melampaui Stereotip Generasi

Label Penting untuk Memahami Perbedaan Generasi

Di seluruh dunia, berbagai label generasi digunakan untuk mengklasifikasikan orang berdasarkan rentang usia dan pengalaman bersama. Berikut beberapa generasi yang umum dikenal antara lain:

  • Generasi Z: Lahir antara 1996 - 2021

  • Milenial: Lahir antara 1980 - 1995

  • Generasi X: Lahir antara 1966 - 1979

  • Baby Boomer: Lahir antara 1945 - 1965

  • Generasi Alpha: Lahir setelah 2012

  • Generasi Diam / Pra-Perang: Lahir antara 1928 - 1945

  • Generasi Gamma: Lahir sebelum 1928

Pemberian label pada kategori usia ini membantu kita memahami perbedaan sikap, perilaku, dan pengalaman antar generasi.

Kesepakatan Bersama?

Di Amerika, penelitian menunjukkan bahwa 62% penduduknya dapat mengkategorikan dengan benar generasi mereka sendiri. Ini menunjukkan tingkat kesadaran yang cukup tinggi tentang label generasi.

Konteks dan Kunci

Istilah "Baby Boomer" digunakan untuk menyebut kelompok orang yang lahir setelah Perang Dunia II di Amerika Utara, Inggris, atau Australia. Label ini memberikan konteks sejarah dan geografis penting untuk memahami pengalaman dan nilai-nilai generasi tersebut.

Tidak Hanya Terpaku pada Detail

Penting untuk diingat bahwa label generasi bukanlah satu-satunya faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis. Ada berbagai alasan lain yang lebih kuat untuk tidak menganggap remeh konstruksi generasi.

Sebagai contoh, konsumen yang peduli sosial adalah mereka yang membuat atau mengubah keputusan pembelian berdasarkan kepedulian terhadap lingkungan, masyarakat, atau etika.

Namun, karena perbedaan ukuran populasi antar generasi, tingkat penetrasi perilaku tersebut yang lebih tinggi di kalangan Gen Z tidak secara otomatis berarti mereka merupakan mayoritas pembeli yang peduli sosial.

Perhatikan Perbedaan Gender

Pelajaran kunci dalam menganalisis generasi adalah memiliki pemikiran terbuka dan melihat dinamika yang lebih luas. Faktor lain seperti gender, pendapatan, dan tingkat pendidikan dapat memiliki dampak analitis yang lebih kuat daripada hanya berfokus pada generasi.

Memperhatikan Mereka yang Terlewatkan

Poin penting lainnya adalah mempertimbangkan mereka yang mungkin terlewatkan dalam penelitian generasi. Misalnya, pada awal kemunculan internet, akses internet didominasi oleh orang muda.

Seiring dengan meningkatnya survei online, semakin sulit untuk menyertakan semua segmen masyarakat, terutama kelompok usia lanjut. Survei yang disebut "nasional representatif" seringkali tidak mencakup populasi usia 65-75 tahun ke atas.

Gen Z, Generasi Global yang Pertama

Gen Z, generasi lahir antara 1996 dan 2021, adalah generasi pertama yang benar-benar global. Mereka tumbuh dengan internet dan media sosial, menghubungkan mereka satu sama lain dengan cara baru.

Namun, ada beberapa tantangan unik yang dihadapi Gen Z. Dalam beberapa aspek, mereka menunjukkan kesamaan yang signifikan dalam hal stres, pertemanan, dan perilaku sosial.

  1. Rasa Stres: Gen Z merasakan stres dan kesepian dengan cara yang sama. Ketidakpastian tentang masa depan dan ketakutan akan ketinggalan zaman menjadi faktor utama.

  2. Pertemanan: Mereka lebih cenderung berinteraksi secara online daripada offline, meskipun tetap menghargai hubungan tatap muka.

  3. Perilaku Sosial: Gen Z menghadapi tantangan kesepian namun menerima informasi lebih tinggi daripada generasi sebelumnya.

Apakah Kita Punya "Efek Kohort"?

Gen Z menunjukkan kesamaan yang signifikan, namun faktor seperti geografi dan gender dapat memengaruhi pengalaman mereka.

Dimana kita berakhir?

Kesimpulannya, efek kohort atau efek kelompok mungkin mempengaruhi Gen Z, tetapi perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Menyelami karakteristik mereka dapat membantu dalam pengembangan program dan kebijakan yang relevan.

Oh Boomer, Di manakah Kau?

Pemanggilan Nama

Gen Z disebutkan dapat menjadi generasi global pertama, sedangkan Baby Boomer yang lahir pada 1946-1964 menggambarkan jika mereka lah yang merupakan generasi global pertama, dan hal ini bukanlah fenomena sesungguhnya.

Obsesi

Sejak pertengahan abad ke-20, marketing cenderung mengarah pada kaum yang lebih muda. Namun, obsesi ini bisa mengabaikan kelompok orang lanjut usia yang merupakan sebagian besar populasi di beberapa negara. Misalnya, di Amerika, generasi baby boomer membentuk 25% populasi sementara Gen Z hanya 17%. Hal serupa terjadi di Italia, di mana orang lanjut usia mencapai 28% dengan Gen Z hanya 12%.

Fokus yang terlalu banyak pada generasi muda berarti mengabaikan kelompok yang memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan, hal ini seperti yang terlihat di Amerika di mana orang lanjut usia mengendalikan 70% aset dengan hanya 25% populasi. Meskipun begitu, orang lanjut usia seringkali merasa tidak terwakili dalam dunia periklanan, meski mereka menyumbangkan sebagian besar aset. Ini tercermin dalam data Ipsos yang menunjukkan hanya 8% iklan yang menampilkan orang dewasa yang lanjut usia.

Meskipun mereka mungkin tidak peduli, orang lanjut usia telah memperhatikannya. Upaya marketing yang terlalu fokus pada Gen Z dan Milenial meninggalkan banyak orang lanjut usia merasa tidak terwakili dalam iklan yang ditujukan pada mereka. Sebanyak 41% dari semua generasi merasa pengiklan lebih menghargai orang di bawah usia 50 tahun. Meski orang lanjut usia memiliki pengaruh finansial yang besar, mereka sering diabaikan dalam dunia pemasaran, dan ketika mereka diwakili, seringkali dengan pesan bahwa mereka harus terlihat lebih muda.

Masalah utamanya adalah kurangnya komunikasi

Para penjual kesulitan mendorong pembelian kembali ketika pelanggan merasa puas dengan yang mereka miliki. Sebagian besar baby boomer (76%), menyukai kehidupan sederhana dan lebih cenderung membeli hanya barang yang dibutuhkan. Meskipun dahulu dianggap hedonis, sebagian besar orang tua saat ini tidak terlalu tertarik pada merek-merek aspirasional. Mereka ingin menua dengan anggun tanpa bantuan zat kimia dan merasa tidak terwakili dalam pesan-pesan yang mereka terima. Jadi mari berhenti fokus pada menjual apa yang kami miliki dan temukan apa yang mereka inginkan dan lakukan.

Menyesuaikan Perilaku Kita

Sebagai komunitas penjual, kita melakukan relatif sedikit untuk berusaha melibatkan orang dewasa yang sudah lanjut usia. Mungkin perlu menyesuaikan kata ketika membicarakan “boomers”, tapi apapun yang disebutkan mereka merupakan segmen dengan kekuatan belanja yang besar dan tidak bisa ditemukan dalam komunikasi modern saat ini. Dan kebanyakan dari mereka tidak terlalu obsesif untuk berpura-pura menjadi muda, atau bertahan pada demografis yang tidak lagi mereka miliki.

Demografi sebagai Masalah Politik

Penurunan Populasi Ada Di sini dan Mulai Diperhatikan

Penurunan populasi menjadi masalah global yang semakin serius. Meskipun hanya 30 negara yang diperkirakan mengalami penurunan pada tahun 2024, namun di antaranya termasuk negara-negara besar seperti Tiongkok, Jepang, Italia, dan sebagian besar Eropa Timur.

Pada tahun 2023, berita dramatis muncul bahwa populasi global telah mencapai 8 miliar dan pertumbuhan akan berlanjut dalam beberapa dekade mendatang, terutama karena peningkatan harapan hidup. Namun, penurunan populasi absolut tampak tak terhindarkan, bahkan diprediksi akan dimulai sekitar tahun 2064.

Populasi yang menua menimbulkan serangkaian tantangan, termasuk rasio ketergantungan usia tua yang semakin memburuk. Hal ini membuat dukungan bagi orang yang menua semakin bergantung pada jumlah pekerja yang semakin sedikit.

Demografi ini menjadi isu politik yang semakin penting, seiring dengan perubahan iklim. Kesadaran akan penurunan populasi semakin meningkat, karena tekanan yang ditimbulkan pada pensiun dan layanan publik. Ini menjadi pembicaraan nasional yang signifikan di banyak negara.

Beberapa faktor personal lain yang berperan dalam keputusan seseorang untuk tidak memiliki anak, yaitu seperti alasan fisiologis, finansial, atau situasi pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa keinginan untuk tidak memiliki anak lebih dipengaruhi oleh faktor personal daripada kondisi dunia atau ketidakinginan.

Baca selengkapnya di sini.

Society